Arti 'Telu' Dalam Bahasa Jawa: Penjelasan Lengkap
Arti ‘Telu’ dalam Bahasa Jawa: Penjelasan Lengkap
Hey guys! Pernah nggak sih kalian denger kata “telu” terus bingung artinya apa? Nah, buat kalian yang lagi belajar bahasa Jawa atau sekadar penasaran, “telu” dalam bahasa Jawa itu artinya adalah angka tiga (3) . Gampang banget, kan? Tapi, kayaknya nggak seru dong kalau cuma sampai di situ aja penjelasannya. Yuk, kita kupas tuntas lebih dalam soal kata “telu” ini, mulai dari penggunaannya sampai ke makna budayanya.
Table of Contents
Penggunaan ‘Telu’ dalam Percakapan Sehari-hari
Oke, jadi intinya
telu
itu sama dengan
tiga
dalam bahasa Indonesia. Tapi, penggunaannya di bahasa Jawa itu punya beberapa tingkatan, lho! Ini nih yang bikin bahasa Jawa unik dan kadang bikin pusing pemula. Jadi, ada yang namanya
undha-usuking basa
atau tingkatan bahasa. Nah, kalau kita mau bilang “tiga” ke orang yang umurnya sebaya atau lebih muda, kita bisa pakai kata
telu
. Contohnya, kalau kamu lagi main kartu sama teman terus kartunya ada tiga, kamu bisa bilang, “Aku punya
telu
kartu nih!” atau “Ada
telu
orang di sana.” Simpel, kan?
Nah, tapi kalau kamu ngomong sama orang yang lebih tua, atau orang yang kamu hormati, seperti guru, orang tua, atau sesepuh, kamu nggak bisa langsung ceplas-ceplos bilang
telu
. Di sinilah letak keunikan bahasa Jawa. Kita harus pakai tingkatan yang lebih halus dan sopan. Untuk angka tiga, tingkatan yang lebih sopan itu adalah
tiga
(sama kayak bahasa Indonesia) atau
tré
. Jadi, kalau kamu mau bilang “tiga” ke orang yang lebih tua, misalnya, “Bapak, kulo tumbas
tiga
bungkus roti nggih?” (Bapak, saya beli tiga bungkus roti ya?). Perhatikan baik-baik, ya, penggunaan
tiga
di sini bukan berarti salah, tapi justru menunjukkan rasa hormat. Kadang juga ada yang pakai
tata
tapi ini lebih jarang dan biasanya dalam konteks tertentu.
Terus, ada juga level yang paling halus lagi, yaitu
krama inggil
. Di level ini, angka tiga bisa diwakili dengan kata
tiga
juga, atau kadang disesuaikan dengan konteks kalimatnya. Tapi, yang perlu diingat, dalam krama inggil, kita lebih fokus pada penggunaan kata kerja dan kata benda yang sopan. Jadi, intinya, kata
telu
itu valid dan benar untuk komunikasi sehari-hari di kalangan teman atau orang yang lebih muda. Tapi, kalau mau naik level kesopanan, siap-siap pakai
tiga
atau
tré
ya, guys!
Contoh Kalimat Sehari-hari dengan ‘Telu’
Biar makin nempel di otak, yuk kita lihat beberapa contoh kalimat pakai kata
telu
:
-
“
Aku duwe
teluadhine .” (Aku punya tiga adik). -
“
Wenehono aku
telusikopiku, yo! ” (Berikan aku tiga kopinya, ya!). -
“
Ana
teluuwong lagi ngobrol ing ngarep omah. ” (Ada tiga orang sedang mengobrol di depan rumah). -
“
Wis ping
teluaku ngandhani kowe. ” (Sudah tiga kali aku memberitahumu).
Lihat kan,
telu
itu sebenarnya sering banget kita dengar dan pakai. Jadi, nggak perlu takut salah. Yang penting, kita tahu kapan harus pakai
telu
dan kapan harus pakai tingkatan yang lebih sopan.
Makna Budaya dan Filosofis ‘Telu’
Nah, sekarang kita masuk ke bagian yang lebih menarik, guys. Ternyata, angka tiga atau
telu
dalam budaya Jawa itu punya makna yang lebih dalam, lho, nggak sekadar hitungan biasa. Dalam banyak tradisi dan kepercayaan Jawa, angka tiga sering dikaitkan dengan konsep kesempurnaan, keseimbangan, dan keabadian. Ini bukan cuma isapan jempol, tapi terlihat dari berbagai praktik dan filosofi hidup masyarakat Jawa.
Salah satu contoh paling umum adalah konsep
Trisula
. Trisula itu kan senjata yang punya tiga ujung. Dalam filosofi Jawa, tiga ujung trisula ini bisa melambangkan berbagai hal. Ada yang mengartikan sebagai
Gusti
(Tuhan),
Nabi
(Rasul), dan
Wali
(Orang Suci)
. Ada juga yang mengaitkannya dengan tiga unsur penting alam semesta:
Bumi
(Bumi),
Angkasa
(Langit), dan
Banyu
(Air)
. Intinya, trisula melambangkan kekuatan yang utuh dan seimbang.
Selain itu, ada juga konsep
Tri Kosa
atau tiga kekuatan. Ini bisa diartikan sebagai
Kekuatan Pikiran
,
Kekuatan Perkataan
, dan
Kekuatan Perbuatan
. Ketiga kekuatan ini harus selaras dan seimbang agar hidup seseorang berjalan baik dan harmonis. Kalau salah satu timpang, ya bakal berantakan. Konsep ini mengajarkan kita pentingnya menjaga laku, sabda, dan karya.
Dalam upacara adat, angka tiga juga sering muncul. Misalnya, dalam prosesi pernikahan adat Jawa, seringkali ada ritual yang melibatkan tiga tahapan atau tiga benda. Atau dalam upacara selamatan, terkadang ada sesaji yang disajikan dalam tiga tingkatan. Ini menunjukkan bahwa angka tiga dianggap sebagai angka yang keramat dan membawa keberuntungan.
Filosofi Jawa juga mengajarkan tentang
Telung Perkara
atau tiga perkara yang harus diperhatikan dalam hidup. Meskipun detailnya bisa berbeda-beda tergantung ajaran, intinya adalah tentang bagaimana kita menjalani hidup dengan bijaksana. Seringkali ini berkaitan dengan bagaimana kita berinteraksi dengan diri sendiri, dengan sesama, dan dengan Sang Pencipta.
Bahkan dalam seni pertunjukan wayang kulit, angka tiga ini sering muncul. Tokoh-tokoh tertentu mungkin memiliki ciri khas yang berhubungan dengan angka tiga, atau alur cerita yang melibatkan tiga elemen penting. Ini menunjukkan betapa meresapnya makna angka tiga dalam kehidupan masyarakat Jawa, mulai dari hal-hal sehari-hari sampai ke tingkat spiritual dan filosofis yang mendalam.
Jadi, guys, kalau kalian dengar kata
telu
, jangan cuma ingat artinya angka tiga. Coba diingat juga makna budayanya yang kaya. Angka
telu
itu bukan sekadar angka, tapi simbol keseimbangan, kesempurnaan, dan keharmonisan dalam pandangan hidup masyarakat Jawa. Keren, kan?
Perbedaan ‘Telu’ dengan Angka Lain dalam Bahasa Jawa
Supaya makin mantap pemahaman kita soal
telu
, yuk kita bandingin sama angka-angka lain dalam bahasa Jawa. Ini penting biar kita nggak salah kaprah, terutama soal tingkatan bahasanya. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, bahasa Jawa punya undha-usuk (tingkatan). Nah, tingkatan ini berlaku untuk semua angka, bukan cuma
telu
.
Kita mulai dari angka satu. Dalam bahasa Jawa, angka satu itu
siji
untuk ngoko (bahasa kasar/biasa), dan
setunggal
untuk krama (bahasa halus/sopan). Jadi, kalau ngomong sama teman, “Aku duwe
siji
pitik.” Tapi kalau ngomong sama orang tua, “Kulo kagungan
setunggal
ayam.” Jelas beda, kan?
Angka dua. Bahasa ngokonya
loro
, sedangkan bahasa kramanya
kalih
. Contoh ngoko: “Tukuo
loro
gendhis.” (Beli dua gula). Contoh krama: “Panjenengan sampun dhahar
kalih
wekdal?” (Anda sudah makan dua kali?).
Nah, sekarang kita balik lagi ke angka tiga. Ngokonya
telu
, kramanya
tiga
atau
tré
. Kita sudah bahas ini di atas. Jadi, inget ya,
telu
itu buat ngoko,
tiga
/
tré
itu buat krama.
Bagaimana dengan angka empat? Ngokonya
papat
, kramanya
sekawan
. Contoh: “Buku
papat
ana ing meja.” (Buku empat ada di meja). Contoh krama: “Mangga dipununjuk
sekawan
gelas menika.” (Silakan diminum empat gelas ini).
Angka lima. Ngokonya
lima
, kramanya
gangsal
. Contoh ngoko: “Iwake ana
lima
.” (Ikannya ada lima). Contoh krama: “Kula nyuwun pirsa
gangsal
bab menika.” (Saya minta informasi lima hal ini).
Dan seterusnya. Polanya mirip-mirip. Ada kata ngoko yang lebih santai dan ada kata krama yang lebih sopan. Perbedaan ini bukan cuma soal kosakata, tapi mencerminkan budaya Jawa yang sangat menghargai sopan santun dan hierarki sosial. Jadi, kalau kamu pakai kata
telu
ke orang yang lebih tua, itu seperti kamu pakai baju yang terlalu santai ke acara formal. Bisa jadi dianggap kurang sopan atau nggak tahu adat.
Kenapa penting banget tahu bedanya? Supaya komunikasi kamu lancar dan nggak menyinggung orang lain. Apalagi kalau kamu lagi di Jawa Tengah atau Jawa Timur, di mana bahasa Jawa masih banyak dipakai. Dengan menguasai tingkatan bahasa ini, kamu nggak cuma bisa ngobrol, tapi juga menunjukkan rasa hormat dan penghargaan terhadap budaya setempat. Jadi, selain
telu
artinya tiga, sekarang kamu juga tahu
tiga
atau
tré
itu versi sopannya. Mantap!
Kapan Sebaiknya Menggunakan ‘Telu’?
Biar nggak salah langkah pas ngobrol pakai bahasa Jawa, kita perlu tahu kapan waktu yang tepat buat pakai kata
telu
. Gampangnya gini, guys:
gunakan
telu
saat kamu berada dalam situasi yang santai, akrab, dan nggak perlu formalitas berlebihan.
Siapa aja yang bisa kamu ajak ngobrol pakai
telu
? Jawabannya adalah:
-
Teman Sebaya atau Teman Dekat:
Ini adalah pengguna
teluyang paling umum. Kalau kamu lagi ngobrol sama teman-temanmu, baik itu teman sekolah, kuliah, atau teman nongkrong, pakai ajatelu. Nggak ada masalah sama sekali. -
Adik atau Anggota Keluarga yang Lebih Muda:
Sama seperti teman sebaya, kamu bisa pakai
telusaat berbicara dengan adik, keponakan, atau anggota keluarga lain yang usianya di bawah kamu. -
Anak-anak:
Saat berbicara dengan anak kecil, pakai bahasa ngoko, termasuk kata
telu, itu sudah lazim dan natural. -
Situasi Informal:
Di luar konteks hubungan personal, kalau kamu berada dalam suasana yang sangat santai dan informal, misalnya lagi main game bareng, nonton bareng, atau di acara kumpul-kumpul yang sifatnya sangat kasual, penggunaan
telujuga bisa diterima.
Contoh situasi kapan pakai
telu
:
-
“Eh, kamu punya
telukelereng nggak? Punya gue ilang satu.” (Ngobrol sama teman). -
“Tolong ambilin
telubuku di rak itu ya, Dek.” (Ngasih instruksi ke adik). -
“Tadi aku lihat ada
telukucing di taman.” (Cerita ke teman).
Jadi, intinya,
telu
itu adalah pilihan kata yang bersahabat dan nggak kaku. Kamu bisa pakai kapan aja kalau kamu merasa nyaman dan lawan bicaramu juga nyaman dengan bahasa ngoko. Tapi, ingat,
jangan pernah pakai
telu
saat berbicara dengan orang yang lebih tua, atasan, guru, atau dalam situasi yang menuntut kesopanan tinggi.
Di momen-momen seperti itu, beralihlah ke
tiga
atau
tré
biar aman dan sopan.
Memahami kapan menggunakan
telu
akan membuat komunikasi bahasa Jaramu terdengar lebih alami dan menunjukkan kalau kamu paham betul nuansa budayanya. Jadi, jangan cuma hafal artinya, tapi hafal juga konteks penggunaannya ya, guys! Semoga penjelasan ini bikin kalian makin pede ngobrol pakai bahasa Jawa!